Loading

Peristiwa yang tidak masuk akal perihal batu besar dan suara aneh yang akhirnya terjadi dan membuat saya harus terdiam karena bingung. Kami menikmati pemandangan alam tanpa meminta izin dengan “yang katanya” penghuni aslin tempat ini. Jika tak meminta izin, mereka akan mengikuti, menyerang bahkan hinggap ketubuh manusia. Dan untuk pengalaman pertama kalinya, saya merasajan sebuah sensasi menyeramkan ketika pergi tur menggunakan motor ke kaki gunung. Cerita ini tak bisa saya lupakan seumur hidup.

Beberapa tahun lalu ketika liburan sekolah, saya memiliki hasrat untuk melakukan single touring menggunakan motor kesayangan. Awalnya saya sangat menikmati semua moment perjalanan itu. Pemandangan alam yang indah terutama pegunungan yang akan saya jelajahi. Saya memilih gunung merbabu karena letaknya dekat rumah nenek dan kakek. Agar rencana liburan kali ini cukup tertata saya mengajak salah satu saudara untuk ikut mendaki sekaligus berperan sebagai penunjuk jalan.

Kami memulai perjalanan pada pukul 3 sore untuk menuju kaki gunung merbabu. Perjalanan dari rumah kakek hanya membutuhkan waktu 50 menit. Jauh-jauh hari saya sudah memilih lokasi mana yang akan saya datangi dan pastinya karena pemandangannya yang tak biasa. Awalnya semua tampak biasa dan berjalan lancar-lancar saja, melihat oemandangan indah, hawa yang sejuk, jalanan naik turun dan berkelok dan pepohonan yang terhampar luas nan indah. Untuk berfoto, kawasan itu tentunya sangat bagis sekali dengan latar belakang gunung merbabu dan rute jalan berkelok……

Baca Juga : Selamat Dari Santet Dukun Tua Berkat Pertolongan Allah SWT

Batu Besar Menarik

Karena penasaran, kudekati batu besar yang terlihat biasa itu dengan permukaan nya yang rata. Ketika saya naiki batu itu dan duduk bersila layaknya seorang pertapa, rasanya itu keren. Namun firasat mendadak aneh ketempat kami mengambil foto. Sampai ketika saya menaiki satu persatu batu batu kecil yang tersusun seperti tangga. Saat sampai diatas, sejenak saya merasakan terpesona melihat pemandangan dari atas batubesar itu.

Dataran hijau yang luas sekitar gunung merbabu jauh lebih indah daripada tempat manapun yang pernah saya datangi. Tampak sedikit cahaya matahari yang masih menyinari spot foto kami. Walaupun tak lama kemudian, perlahan sinar matahari hilang tertutup bukit dari sebelah barat. Disana sangat sunyi, sudah tak lagi terdengar lalu lintas kendaraan bahkan sudah tak ada lagi aktivitas para petani.

Lalu terdengarlah sebuah bunyi gamelan ding..dong..ding.. yang entah berasak darimana. Pikir saya, mungkin saja ada salah satu warga yang sedang hajatan, namun ketika diingat-ingat tak ada satupun orang yang menggelar acara. Karena saat menuju tempat ini, jalur yang kami lewati merupakan jalan utama dan satu-satunya dan lokasinya tampak sepi dan desa terdekat hanya berjarak 4-5 kilometer.

Kami mencoba untuk tenang, namun pikiran sudah agak tidak fokus. Tiba-tiba ada hal aneh…. Lanjut ke next part II ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *