Loading

Desa Trunyan ialah tempat wisata unik yang berada di kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Berbagai wisata menarik indonesia tak hanya dapat kita nikmati keindahannya saja, namun mitos menyeramkan dari suatu daerah itu menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan. Penduduk desa trunyan ini memiliki keunikan dalam tradisi pemakaman mayat, yaitu mayat akan mereka biarkan tergeletak pada tempat terbuka ketanah tanpa harus kubur. Keunikan lainnya, ketika wisatawan datang kesini, mereka tak akan mencium bau tidak sedap dari proses mayat yang mengalami pembusukkan. Kebalikannya, area ini akan tercium wangi semerbak karena pohon Tarumenyan yang mengeluarkan aroma unik. Menurut warga setempat bau busuk akan terserap oleh akar pohon tarumenyan yang letaknya berada tengah makam, sehingga hanya wangi harumnya yang bisa orang cium.

Baca Juga : Alas Purwo, Pusat Kerajaan Makhluk Gaib Di Tanah Jawa!

Ketentuan Pemakaman Desa Trunyan

Namun tak semua jenazah dapat mereka makamnya, hanya penduduk setempat dengan memenuhi beberapa syarat. Ketentuan dan syarat itu ialah jumlah jenazah yang akan mereka letakan dekat pohon tarumenyan tak boleh lebih dari 11, karena ruang mapasah hanya tersedia untuk 11 jenazah saja. Syarat-syarat itu terbagi dalam tiga golongan menurut keadaan meninggal si jenazah yang akan mereka semayamkan :

  • Muda ialah pemakaman khusus untuk bayi dan anak-anak.
  • Wayah ialah pemakaman untuk mereka yang meninggal dengan cara yang wajar.
  • Bantas ialah pemakaman untuk mereka yang meninggalnya dengan kecelakaan dan tidak wajar.
    Meskipun jenazah ituh hanya mereka letakkan begitu saja, namun para kerabat keluarganya akan menyiapkan sebuah tenda yang terbentuk dari bambu. Tenda itu berguna sebagai pagar yang akan melindungi mayat dan menjadi pembatas antar satu mayat dengan mayat lainnya.

Wisatawan dapat menemukan tulang belulang yang berserakan begitu saja serta kumpulan tengkorak manusia yang tersusun rapih. Tradisi unik dalam memakamkan seseorang ini mungkin terlihat menyeramkan bagi orang-orang tertentu. Maka dari itu, banyak wisatawan yang mengagendakan harinya untuk berkunjung kesini. Untuk pergi ke desa trunyan, akses nya cukup mudah hanya perlu menyewa perahu ke dermaga kedisan tepi danau batur kintamani. Dan membayar biaya sekitar Rp 100.000 dengan waktu tempuh hanya 30 menit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *