Loading

Batu besar itu mendadak membuat saya dihantui suara gaib yang tak orang lain dengar. Semua hal itu dapat kami pastikan hal yang aneh karena saat menuju kesini semua desa yang kami lalui menuju lokasi sangatlah lenggang. Dengan jarak hanya 4 kilometer dari desa terdekat tak terlihat terlalu ramai. Kami berdua mencoba untu tenang, namun manusiawi lama-lama pikiran kami mnejadi tak fokus. Suara gamelan itu terus terdengar semakin kencang. Sampai pada saat, tanpa pikir panjang saya langsung lompat dari batu setinggi hampir 2 meter itu. Bukan tanpa sebab, suara gamelan yang semakin keras dan suara sinden terdengar lirih mulus dan tanpa terbata-bata. Suara yang keluar dari perempuan itu terdengar beberapa kalimat jawa dan membuat bulu kuduk berdiri tegak.

Keringat dingin, merinding, belum lagi tangan dan kaki gemetar luar biasa dan kondisi ini belum pernah saya alami sebelumnya. Saat lompat dari batu, saudara saya kebingungan, memang ada apa? Bahkan ia belum sempat memotret, ia sebenarnya tak terlalu peka dengan keanehan yang sedang muncul. Namun tak lama kemudian, suara itu perlahan lenyap, bahkan sangat sunyi ketika kaki ini telah mendarat ke tanah. Tanpa basa-basi langsung saya gandeng tangan saudara saya pergi dari tempat itu. Ketika sudah mendekat area parkiran, baru saya berani membahas soal tadi
“Dek, kamu tadi dengar suara gamelan gak?” tanyaku.
“Gamelan? Aku gak dengar.” jawabnya.
“Ya ampun. Kalo suara perempuan nyanyi jawa dengar?”
“Jangan mengada-ngada deh, aku gak dengar.”

Dihantui Suara Gaib

Semua jawabannya membuat saya agak terdiam, saya langsung menghampiri motor dan langsung menyalakan dan memutar gaspol sampai tubuh saudara saya hampir terpental. Saat itu juga kami langsung memutuskan untuk pulang, sepanjang perjalanan saya menceritakan dengan rinci suaranya. Tak kami sangkan, suara gamelan dari kaki gunung merbabu itu kembali terdengar. Dan lagi-lagi hanya saya saja yang mendengar, suara gas motor saja kalah dengan suara gamelan itu, seperti mendengarnya dengar earphone.

Bahkan saudara saya tak bisa mendengar suara apapun dari mulut saya, helm nya sudah ia buka dan mendekatkan telinganya kedekat bibir saya. Hari kian gelap dan kabut mulai datang, motor ini semakin saya pacu dengan kencang. Suara gamelan itu membuat saya seperti tidak sadar, rasanya seperti mengendarai motor sambil mengambang dan menikmatinya. Ketika kami sampai kerumah kakek, barulah suara gamelan itu mendadak mengilang. Baju saya basah dengan keringat, padahal suasana saat itu cukup sejuk karena itu kabut yang datang lebih cepat dari biasanya.

 

Baca Juga : Batu Besar Aneh Di Kaki Gunung Merbabu Dengan Keindahannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *