Loading

Untuk anda yang tinggal sekitar Jawa Timur pasti sudah tak asing lagi dengan Gunung kawi yang terletak di kabupaten malang ini. Karena memiliki panorama yang luar biasa indah bagi sebagian orang menganggapnya sebagai gunung yang menyimpan banyak cerita misteri dan horor. Banyak orang yang mengaitkan gunung ini sebagai tempat angker dan suasana mistis pesugihan. Jika melihat sejarahnya, tempat populer ini memiliki sebuah makam yang cukup keramat yaitu makan Eyang jugo atau Kyai Zakariya dan Makam Eyang Raden Mas Iman Sujono.

Mereka adalah orang yang berjuang dalam salah satu laskar pejuang dari Pangeran Dipenogoro saat melawan penjajah belanda dahulu. Semasa hidupnya eyang jugo sering membantu masyarakat sekitar dan menyebarkan ajaran islam sekaligus menyembuhkan penyakit, tak heran banyak orang yang menghormatinya. Karena kesaktiannya itu banyak orang yang ingin menjadi muridnya salah satunya adalah Eyang Iman Sujono mengangkatnya sebagai orang kepercayaannya. Sebelum kematiannya, eyang jugo pernah meminta untuk memakamkan ia kelereng gunung kawi dan pada senin pahing 22 Januari 1871 ia meninggal. Lima tahun berselang Kyai Zakariya akhirnya ikut berpulang dan ia berwasiat untuk dimakamkan satu liang lahat dengan eyang jugo.

Hal menarik dari gunung kawi adalah banyak dari mereka yang berkunjung adalah orang tionghoa. Mereka datang kesini untuk berziarah seklaigus bersembahyang, banyak yang menganggapnya aneh karena semua orang tahu kalau eyang jugo dan eyang imam sujono adalah seorang muslim. Semua bermula karena seseorang yang bernama Tan Kie Lim atau Pek lam. Dulu ia sempat sembuh oleh pengobatan dari Eyang Iman Sujono berkat air guci dan ia ikut berguru kepadepokan gunung kawi.

Kisah Tempat Pesugihan Gunung Kawi

Ia bahkan sampai mendirikan sebuah klenteng kecil sendiri untuk sembhayang. Banyak orang yang berguru dan terkenal dengan kisah suksesnya. Misalnya saja kisah dari seorang tionghoa yang usahanya sedang jatuh dan terpuruk dan ia melakukan tirakatnya ke gunung kawi. Selama masa semedinya ia mengaku melihat penjual talas atau bentoel. Ia menceritakan apa yang ia lihat dan sesuai nasehat dari sang juru kunci akhirnya ia menamai usaha rokoknya dengan merek Bentoel. Selain melakukan semedi dan upacara islam-kejawaen, para juru kunci makam dan peziarah tionghoa juga melakukan serta ritual sembhayang ala tionghoa. Dan sekarang sudah terbangun tiga buah kelenteng kecil dan sebuah masjid dekat makam. Maka dari itu, komplek gunung kawi sekarang menjadi tempat pencampuran budaya ritual Jawa-Tionghoa. Dan cerita perihat tempat pesugihan konon akan mereka lakukan pada area petilasan eyang jugo yang letaknya tak jauh dari makam.

Namun letaknya harus melalui jalanan curam dan banyaknya tanaman bambu yang tanahnya licin. Ketika sampai ke tempat petilasan, orang-orang akan melakukan ritual semedi selama tiga malam dibawah pohon dewandaru. Jika ritual itu berhasil akan pertanda dengan jatuhnya daun pohon dewandaru dan mengenai tubuh si peritual. Jika berhasil mereka harus memberikan tumbal kepada si juru kunci dan sesajen berupa kambing berbulu hitam. Untuk melakukan itu hanya bisa berhasil oleh orang yang paham akan pesugihan ini dan biayanya pun konon tidak murah. Rumor pesugihan ini telah beredar luas dan tak heran kalau gunung kawi selalu mengaitkannya dengan tempat angker.

Baca Juga : Penyiar Radio yang Diteror Hantu Penjual Nasi Goreng, PART II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *