Loading

Cerita Horor : Lubang misterius didalam rumah sakit terbengkalai – Rudi mengeluarkan tali tampar dari dalam tasnya yang sengaja ia bawa untuk persediaan. “Gilang ayo cepat naik!” teriaknya dari atas. Tali diulur perlahan ke dalam lubang, lengan kanan Rudi masih memegangi senter. Gilang meraih tali, sekuat tenaga Rudi menarik tubuh Gilang. Akan tetapi, tali itu seperti ada yang menarik dengan kencang dari dalam lubang membuat tubuh Rudi tersungkur lalu masuk ke dalam lubang. Didalam lubang itu, senter Rudi perlahan meredup dan padam, suara mereka tidak lagi terdengar.

Di Jalan Manggis terdapat sebuah gedung terbengkalai yang dulunya adalah rumah sakit dan sekarang tidak boleh beroperasi lagi. Rudi dan Gilang berniat untuk mencuri barang di rumah sakit itu. Keduanya sama-sama berbadan kurus tinggi. Mereka membawa tas yang ada sebuah karung besar di dalamnya untuk mengangkut barang.

Anak Kecil Ini Menangis Terus, Setan Bukan Ya

Mereka bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Mereka memasukkan barang-barang yang sekiranya masih laku dijual dengan terburu-buru dan serakah. Kemudian mereka naik ke lantai dua. Rudi dan Gilang berpencar menyisir setiap ruangan. Cahaya senter milik Rudi tidak sengaja menyorot sebuah kamera yang tergeletak di lantai. Rudi menoleh ke sekeliling. Ia curiga ada seseorang di gedung ini. Ia menghampiri kamera itu, saat Rudi sedang memijat sembarang tombol kamera, tiba-tiba dari layar kamera yang masih merekam itu menangkap anak perempuan yang berdiri dihadapannya. Anak itu menangis. Dari perawakannya, ia sepertinya berumur 5 tahunan. Rudi curiga, jangan-jangan anak kecil itu setan. Pelan-pelan ia mendekatinya. Disentuhnya pundak anak itu. Ternyata pundaknya memang bisa disentuh. Rudi menghembuskan nafas lega. Ini pasti anak yang nyasar, pikir Rudi.
“Kamu kok malem-malem disini?”
“Ibuku..,”katanya sambil menangis.
“Ibumu kemana dek?”

Baca Juga : Minta Dibukakan Mata Batin Nya, Malah Ketakutan Sendiri

Anak kecil itu tidak menjawab. Ia hanya mengulang kata ‘ibuku’ berkali-kali. Itu membuat Rudi bingung harus berbuat apa. Tapi yang menjadi pikirannya, entah bagaimana anak itu bisa ada di rumah sakit ini. Anak ini tidak mungkin setan karena tubuhnya dapat ia sentuh pikirnya.

Ada Perawat Mendorong Brankar Di Rumah Sakit Terbengkalai 

Tanpa memedulikan anak kecil itu, Rudi masuk ke ruang operasi meninggalkan bocah perempuan itu. Ia lalu memilih barang yang sekiranya berharga untuk dijual. Tidak lama kemudian Rudi mendengar teriakan Gilang yang memantul dari ruangan itu. Setelahnya, suara Gilang lenyap tidak terdengar lagi.
Rudi keluar dari ruang operasi lalu melewati anak kecil tadi. Anak itu masih menangis, beberapa kali anak itu minta tolong, tapi Rudi tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia menyeret karungnya yang penuh dengan barang-barang curian.
“Gilang!” panggil Rudi, sambil keluar dari koridor itu. Ia menoleh ke kanan, arah Gilang berpisah dengannya barusan. Tidak ada jawaban sama sekali. Rudi lalu berjalan gontai, ia sepertinya kesulitan menyeret karung itu.
“Man….. Gilang! Dimana lu?”

Dari kejauhan, terdengar suara brankar yang didorong mendekat, Rudi berjalan mendekati koridor yang menjadi sumber suara tersebut. Ia menyorotkan senternya ke lorong koridor, disana ia melihat sebuah brankar yang didorong oleh dua orang lelaki berpakaian medis. Semakin mendekat wajah lelaki yang terbaring diatas brankar terlihat semakin jelas. Itu ternyata Gilang. Brankar itu berbelok kiri menuju kamar mayat. Rudi lari mengejar brankar yang masuk ke dalam kamar mayat, karung yang ia seret dibiarkan begitu saja. Pintunya terkunci dengan sangat rapat, dengan sekuat tenaga Rudi mendobrak pintu itu. Namun, tetap tidak bisa.
Buru-buru ia mencari sesuatu untuk mendobrak pintu. Untungnya ia menemukan sebuah tabung pemadam api diruangan sebelah. Sebelum sampai didepan pintu, ia berhenti dan menengok pada jendela kamar mayat. “Ah sial,” decak Rudi. Tadinya Rudi akan memecahkan jendela itu, tapi ternyata ada terali besi yang terpasang di dalamnya. Dengan sekuat tenaga, ia membentukan tabung ke pintu itu, Akhirnya pintu itu berhasil di dobrak. Di dalam tidak ada siapa-siapa, hanya ada brankar-brankar tua yang berjajar rapi. Rudi mengarahkan cahaya senter ke segala arah sambil memanggil nama temannya itu.

Lubang Menyeramkan Tempat Menyembunyikan Manusia

Ia melihat sesuatu yang mencurigakan di sudut kanan ruangan. Itu sebuah lubang di lantai, ia mendekati lubang itu perlahan dan hati-hati. Lubang misterius itu berbentuk segi empat seperti lubang septic tank. Semakin dekat, suara orang minta tolong semakin terdengar dari dalam lubang itu. Terdengar banyak suara meminta tolong. Ketika Rudi mengarahkan senter ke lubang tersebut, terlihat wajah-wajah manusia mendongak ke arahnya. Mereka adalah Gilang dan orang tua si anak kecil tadi. Wajah mereka terlihat sangat pucat, sambil menangis ia meminta tolong pada Rudi.

Lubang itu lumayan dalam, satu-satunya cara untuk mengeluarkan mereka adalah dengan tali. Ia harus mencari tali telebih dahulu lalu menarik Gilang keluar dari Lubang. Ia hanya akan mengeluarkan Gilang dari dalam lubang itu. Rudi mengeluarkan tali tampar dari dalam tasnya yang sengaja ia bawa untuk persediaan. “Gilang ayo cepat naik!” teriaknya dari atas. Tali diulur perlahan ke dalam lubang, lengan kanan Rudi masih memegangi senter. Gilang meraih tali, sekuat tenaga Rudi menarik tubuh Gilang. Akan tetapi, tali itu seperti ada yang menarik dengan kencang dari dalam lubang membuat tubuh Rudi tersungkur lalu masuk ke dalam lubang.

Didalam lubang misterius itu, senter Rudi perlahan meredup dan padam, suara mereka tidak lagi terdengar. Akhirnya mereka terjebak dalam lubang misterius itu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *