Loading

Cerita Horor : Mbak Kunti di area pemakan itu ikut bonceng motor temanku – Melewati area pemakaman yang angker dan ngeri mungkin udah biasa bagi beberapa orang. Tapi kalau sosok mbak kunti tiba-tiba ikut bonceng juga, gimana tuh rasanya..

Kejadian ini dialami oleh saya beberapa tahun lalu ketika masih menginjak kelas 2 smp. Hari itu saya dan teman-teman sedang berkumpul disalah satu rumah seorang teman bernama irfan. Kami nongkrong pada malam hari waktu itu, sekedar ngobrol atau nyanyi-nyanyi gajelas aja yang penting kumpul. Tak berapa lama salah seorang teman bernama rizki, dia pamit untuk pergi sebentar. Bilangnya sih masu beli rokok dan beberapa makanan buat kita di minimarket terdekat.

Lewat Pemakaman Angker

Entah kenapa saya merasa ingin ikut, mau sekalian cari isi bensin juga biar nanti kalau pulang gausah mampi-mampir. Sekalian mau cuci mata, barangkali lihat cewek cantik kan dijalan, hahahaha. Berangkatlah kami dengan mengendarai motor masing-masing, dan sampai di minimarket untuk membeli beberapa snack. Tibalah kami dipom dan langsung mengisi full tank bensin. Setelah selesai, rizki memberi tantangan kepada saya untuk balik ke tempat tongkrongan lewat jalan pintas. Jadi rumah irfan memang lumayan jauh dari jalan raya dan memiliki dua jalan yang bisa dilewati. Yaitu melewati jalan raya atau melewati perumahan. Walaupun jalan pintas ini lebih dekat jaraknya namun area nya harus melewati perumahan baru yang masih sepi dan komplek pemakan yang lumayan angker.

Saya sempat menolak ajakannya, menganggap “Kurang kerjaan amat sih, udah malam gini nyari perkara aja”. Alasan utamanya sih karena memang saya agak merinding kalau lewat jalur itu padahal masih siang bolong. Tapi karena mau cepat sampai juga dan malas untuk putar jalur, jadi saya iyakan ajakan rizki. Belum memasuki komplek pemakaman saja rasanya sekujur tubuh sudah merinding. Karena area pemakaman lama, kontur jalanan nya pun lumayan rusak. Motor yang mau lewat pun harus bergantian sangking sempitnya. Saya memilih berada didepan motor rizki, biar kalau ada apa-apa bisa kabur duluan.

Bunyikan Klakson Di Area Angker

Konon kata orang zaman dulu kalau mau lewat tempat seram atau area pemakaman harus membunyikan klakson, anggap saja seperti meminta izin kepada makhluk yang tak kasat mata untuk meminta izin. Ketika memasuki area pemakaman saya membuyikan klakson motor lebih dulu dan selang beberapa detik rizki menyusul membunyikan klakson. Namun anehnya, ia membunyikan klakson terus-terusan. Rizki masih terus membunyikan klakson nya dan akhirnya sewot juga saya mendengarnya.
Sebenarnya rizki memiliki maksud lain membunyikan klakson berkali-kali agar saya mempercepat laju motor. Rizki melihat ada sesosok kuntilanak yang sedang berdiri disebelah pohon dipintu masuk area pemakaman. Dikarenakan jalan yang sempit, rizki tak bisa ngebut karena terhalang dengan motor saya. Sangking mangkel nya saya mencoba untuk menengok kebelakang untuk memarahi rizki agar memberhentikan klakson motornya itu. Terkejut bukan main.. Saya melihat ada sosok mbak kunti yang membonceng jok belakang motor rizki. Dengan rambut panjang dan wajahnya yang sangat menyeramkan, sepertinya rizki memang belum menyadarinya sama sekali. Sangking takut setengah mati, tanpa basa-basi saya menekan gigi motor dan menambah kecepatan maksimal motor agar cepat sampai dikeramaian. Bahkan ketakutan ini mengalahkan rasa kesetiakawanan saya dan kepedulian saya terhadap motor yang melaju cepat diatas jalanan yang rusak.

Kapok

Tak sampai lima menit, akhirnya saya sampai dirumah irfan dan teman-teman lain menanyakan dimana rizki dan 10 menit kemudian akhirnya rizki sampai juga tanpa membonceng siapapun dijoknya. Setelah turun, rizki langsung bercerita kalau dia melihat satu sosok kuntilanak diarea pemakaman dan memberikan alasannya kepada saya mengapa dia terus membunyikan klakson.
“Lah lu ngapain mendadak ngebut ninggalin gua?”
“Jangan marah-marah dulu. Gua liat yang lebih serem dari yang lu liat. Tadi ada mbak kunti yang mbonceng motor lu, mukanya serem banget.”
Rizki yang mendengarnya langsung terkejut dan tidak percaya. Ia tak merasakan ada siapapun di belakang jok motornya. Tapi mengingat ekspresi yang ditunjukan saat saya menoleh kebelakang diarea pemakaman tadi, barulah dia mau percaya. Kami berdua lemas dan teman-teman lain yang mendengarkan ceritanya pun ikut merinding. “Kapok deh, gak lagi-lagi lewat situ” ujar rizki sambil menghela nafas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *