Loading

Cerita Horor – Ceritanya sudah membuat bulu kuduk-ku bergidik, siapa sangka kalau Pencerita Jin Yang Menyerupai Manusia itu ternyata menyamar menjadi temanku. Semua orang masih terdiam dan suasana menjadi semakin mengerikan, Sementara itu, galang sambil membereskan gitar miliknya kembali membantu rani untuk menyiapkan arang untuk bakar-bakar. Lalu satu persatu dari mereka mulai memberikan candaan dan lelucon untuk mencairkan suasana. Walau begitu dalam benak galang, masih saja terheran, dari sekian banyak anak kenapa harus dia yang menjadi target untuk diserupai jin.

Lalu sintia mengakhiri ceritanya dengan ekspersi meyakinkan, gimana seram kan? Mendengarnya aku langsung merinding, mungkin kalau aku menjadi galang takkan bisa membayangkan bagaimana takutnya. Selesai menceritakan kisah seramnya tiba-tiba ia mengatakan akan kekamar mandi. Menceritakan kisah seram membuat hasrat dalam dirinya untung buang air kekamar mandi, Aku mengangguk dan kembali membayangkan kisah itu dalam kepalaku.
“Tujuan mereka menyerupai manusia untuk apa yah? Seram juga kalau sampai sebegitunya.” pikirku.

Baca Juga : Jin Yang Menyerupai Dengan Berlagak Seperti Manusia

Pencerita Jin Yang Menyerupai Manusia Itu Temanku

Beberapa kemudian sintia datang dari luar dengan membawa banyak makanan dengan wajah yang berseri-seri.
“Tau gak aku habis bertemu siapa?”
“Emangnya siapa? Jin yang menyerupai manusia, haha? Btw, kok lu bawa jajan sih katanya mau ke toilet?”
“Jin? Toilet? Maksudnya gimana sih? Gejelas deh” ucap sintia heran.
“Ceritamu tadi tentang sepupumu yang diserupai jin” jawabku.

Sintia memejamkan matanya dengan wajah yang sedang berpikir.
“Aku tadi kabur ke kantin saat tau guru tidak masuk karena perutku lapar sekali. Dan aku belum cerita apa-apa sama kamu seharian ini” jelas sintia.
“Tadi kan kamu pamit ke toilet, trus.. Apa jangan-jangan” Omonganku terputus mendadak saat ingat sebelum aku mencolek sintia tadi, ia mengajakku untuk ikut kekantin bersama. Tapi aku sama sekali tidak ngeh kalo ia sudah sampai lgi kekelas dan sudah kembali duduk ke kursinya,
“Kamu memang tidak cerita soal galang?” tanyaku.
“Galang siapa deh? Jangan ngaco kamu!”
Aku hanya terdiam sambil dan mendadak sepanjang siang itu terasa sangat lama bagiku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *