Loading

Cerita Horor : Sahabatku disembunyikan sosok kuntilanak di asrama tua – Kisah menyeramkan ini terjadi belasan tahun lalu ketika aku masih menjadi mahasiswa. Sangat membekas dan menjadi pertanyaan besar, bagaimana bisa manusia diculik oleh hantu?

Perkenalkan namaku aldi dan sahabatku ryan, pada suatu sore kami mendapatkan undangan turnamen futsal dari teman 1 kampusku. Rasanya lumayan shock dan deg-degan, baru pertama kalinya aku diajak untuk berpartisipasi dalam sebuah turnamen olahraga membawa nama kampus pula. Merupakan sebuah kebanggan untukku sendiri karena berpeluang untuk mendapatkan mendali dan piala.

Turnamen Besar

Turnamen yang kutungggu-tunggu akhirnya tiba, kami berangkat menggunakan sebuah bus menuju asrama untuk kami menginap selama turnamen berlangsung. Sesampainya disana, aku sama sekali tidak kecewa dengan suasana nya, terdapat puluhan kamar yang memiliki tiga lantai dalam satu gedungnya. Tempat aku menginap diapit oleh dua gedung fakultas dan pemandangan disekitarnya yang masih banyak pesawahan. Yang paling menarik perhatianku adalah sebuah kolam ikan sangat besar yang terdapat ditengah-tengah tiga gedung tersebut. Tempatku menginap ada dilantai paling atas dan disetiap kamar hanya memiliki dua ranjang atas bawah, aku memilih dikasur bawah dan sahabatku ryan diatas. Terdapat jendela yang pemandangannya langsung menuju sawah dan pohon pisang. Sungguh asri pemandangannya, sangat sulit menemukan ini dikota namun lain cerita kalau malam hari datang suasana mistis pasti akan sangat kental. Walaupun hanya sebuah asrama, ranjang sprei dan bantal nya sangat wangi. Benar-benar servis nya yang sangat diperhatikan layaknya sedang menginap di hotel. Tibalah waktu jam makan siang, dan katanya kami adalah penghuni pertama yang memakai lorong ini sebagai tempat menginap. Memang lantai ketiga ini masih jarang digunakan, tak heran fruniture dikamar tadi masih sangat bagus. Baca Juga: Kesurupan Massal Di Sekolahku, Ada Sosok Yang Memanggilku Dari Toilet

Suara Gaduh Di Kamar Kosong

Saat turnamen ini berlangsung selama tiga hari sangat disayangkan tim kampus kami tak lolos sampai kefinal.Jangankan lolos final, di babak penyisihan saja kami tidak mampu, banyak tim yang hebat-hebat disini. Kami cukup kecewa, akhirnya kami memutuskan masuk ke kamar masing-masing dan sedikit meratapi kekalahan. Suasana lorong menjadi sangat hening, sepi sekali, dan kami memutuskan untuk istirahat dan tertidur.

Saat dini hari, aku terbangun karena suara gaduh dari kamar sebelah yang kosong.
“Yan, yannn. Lo denger suara gak?” suaranya agak samar-samar, tapi jelas terdengar.
“Eh yan. Bangun napa, lu denger gak itu ada suara berisik banget dikamar sebelah?”” tanyaku lagi.
“Apaansih di, gua gak denger apa-apa” jawab ryan.

Yasudahlah, mungkin hanya perasaanku saja dan kulanjutkan tidur. Dan keesokan harinya saat kami terbangun, terdengar kabar bahwa tuan rumah yang memenangkan turnamen dan mereka berpesta. Kami pun diajak untuk bergabung meryakannya, disediakannya banyak makanan dan minuman sambil merayakan hari terakhir kami berada dikota ini.

Kuntilanak Itu Merayu Sahabatku

Ada seorang teman perempuan yang mendatangi kamar aku dan ryan, dia cantik namun rasanya sangat aneh saat berada didekatnya dan cara mentapku pun berbeda.
“Dia suka sama lu kali. Lo kan ganteng, emangnya anak mana sih dia?” ledek ryan
“Anaknya ada disebelah gua yan” jawabku sambil bisik-bisik.
Deg! Anak itu menghilang, dan sekarang dia ada di jendela biasa kau melihat pemandangan sawah. Dan tiba-tiba dia melihat kearahku, aku kaget setengah mati. Ternyata dia bukanlah manusia, wajahnya tiba-tiba saja menjadi hancur dan rambutnya terurai panjang seperti sapu ijuk. Belum lagi ku bilang, kalau dia adalah sosok kuntilanak
“Eh, cantik banget. Kali ini gua yang harus jadi pacarnya dia di”
Aku tertegun seperti ada yang menutup rapat mulutku, ryan tidak sadar kalau dia adalah sosok hantu. Apa aku yang salah melihatanya?

Tak lama kemudian, ryan keluar dari kamar dan langsung kuikuti dia. Ia berkata..
“Lu tidur duluan aja! Gua pergi bentar ya, gak nyampe jam 11 gua udah balik kok.” Dengan melambaikan tangan ia pergi menuruni tangga. Perasaanku tidak enak, sampai jam 11 malam pun dia tak kunjung sampai. Dan kuputuskan memanggil seorang untuk menemaniku turun untuk bertanya kepada penjaga asrama, barangkali dia melihatnya.
“Pak permisi, saya mau tanya. Apa bapak lihat teman saya dia tingginya seperti saya rambutnya cokelat agak ikal tubuhnya putih?”
“Tapi daritadi gak ada siapa-siapa yang lewat mas. Ini pintu saja mau saya gembok mas. Dicek ke kamarnya masing-masing, barangkali sudah pulang?”

Jelas-jelas kami baru saja pergi dari kamar dan tak ada tanda-tanda kalau ryan sudah pulang. Jadi kemana dia pergi? Penasaran kan? Sampai ketemu dipart II yaaa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *