Loading

Cerita Horor – Perempuan malang yang sedang mengerjakan skripsinya itu akhirnya disapa oleh suara perempuan menyeramkan. Bulu kuduk farah mendadak berdiri dan jari-jari nya yang sedang mengetik mendadak bergetar. Tak berselang lama hal ganjil kembali datang dan ia mendengar ada seseorang yang berucap “Hei” “Sssttt!!” dan cukup kencang. Tidak jelas darimana sumbernya, seluruh tubuhnya lemas dan semakin panik, pikirnya darimana asal suara itu! Ditengah kepanikannya ia berusaha menggapai ponselnya untuk menelpon siapapun dan meminta banutan. Dengan cepat ia menggapai ponsel dekat televisi yang masih menyala itu. Ia tak berharap apapun kecuali dapat menelpon seseorang, karena terlalu tegang ponselnya tak berfungsi seperti biasanya. Mendadak ponselnya nge-hang dan hilang sinyal, saat dibutuhkan ponsel itu menjadi sangat tidak berfungsi. Tapi ia tetap mensyukuri hal itu, karena ia dapat menggapai ponsel bukan sesuatu yang horor seperi pada film-film horor. Entah itu sebuah kepala berdarah atau tangan buntung yang bergerak.

Suara Perempuan Menyeramkan Yang Terdengar Nyaring

Namun kemalangannya tak dapat tertolak, ia lagi-lagi mendengar suara. Kali ini suara tertawa yang cukup keras dan nyaring “Hihihihi…” Suara itu begitu nyata, sampai memekakkan telinga dan ia memiliki feeling kalau suara itu bersumber dari toilet yang bersebelahan dengan tangga. Tawa yang tadinya hanya terdengan sekali, seperti ketagihan dan kembali terdengar berkali-kali. Jika itu adalah manusia, ada apa dan siapa tengah malam begini tertawa keras. Jangankan untuk pergi dari kamar untuk mengecek sumber suara, untuk bangkit dari tempat tidurnya saja ia tidak berani. Dalam naungan selimut tebal, ia merasa kalau kamarnya merupakan tempat yang paling aman. Kalau samapi ia membuka pintu dan langsung berhadapan bahkan bertatap muka dengan apapun yang ia tak tahu bentuknya. Bersyukur suara itu akhirnya hilang dan tak sampai menampakkan wujudnya.

Dengan gemetar dan mata yang mulai berkaca-kaca ia perlahan memencet tombol ponselnya. Sangking paniknya, semua jarinya tremor dan ia malah menyambungkan panggilan ke mantannya. Sontak ia terkejut dan langsung mengakhiri panggilannya, bersyukur ia tak sempat mengangkatnya. Setelah menelpon beberapa temannya dan tak ada jawaban, ia akhirnya terpaksa menelponku. Ia menceritakan semua yang ia alami sembari menangis sesegukan. Farah yang biasanya ceria, malam itu pertama kalinya ia tak menunjukkan sifat slengean nya. Ia hanya menunjukkan jejak ketakutan dan kekhawatiran. Bahkan dalam selingan telepon itu pun saya mendengar suara gaduh sekali dan sinyal ketakutan itu cukup mengkhawitkan sampai kerumahku. Mendadak seperti ada sesorang yang sedang mengawasi dari kejauhan, bersykur saja tak ada kejahilan suara taupun hal yang menyeramkan. Cukup disana saja, tak perlu mendoakan mereka sampai datang. Cukup farah, cukup farah saja yang memiliki malam menyeramkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *