Loading

Surat yasin yang kami bacakan tidak mempan sama sekali dari teror penunggu mess, ketika bapak soleh membacakan doa lewat panggilan yang ter-lodspeaker barulah semua gangguan berakhir. Kami langsung membatalkan shalat dan pergi menggotong soleh. Setelah diberi minum dan minyak angin akhirnya ia sadar, langsung saja ia diserbu dengan banyak pertanyaan. Naaun sayangnya ia tak ingat apapun dan tak tahu apa yang tadi ia ucap. Ia seperti habis bangun tidur rasanya. Sejak saat itu, ridwan mnegaku enggan menjadi imam dan kami saling tunjuk untuk menjadi imam. Namun kali ini yanto memberanikan diri untuk menjadi imam. Harapan kami, semoga tidak ada apapun yang terjadi setelah ini.

Perkiraan kami salah, lagi-lagi yanto ikut tumbang dna tak sadar. Saat sadar ia mengaku melihat lagi sosok pocong yang sedang berdiri dibalik jendela. Suasana semakin mencekam dan mendadak mess menjadi pengap dan gerah. Ia merasa banyak yang tidak beres, soleh akhirnya menelpon ayahnya yang seorang kiai. Rasanya aku ingin marah kenapa ia tak melakukan itu sejak awal. Tapi yasudahlah, mungkin baru kepikiran!

Ia menyarankan agar kami membaca yasin bersama menyebar keseluruh penjuru rumah. Kami berpencar untuk memaca surah yasin dan melakukan nya dengan sangat khusyuk. Rasanya hati sudah ingin kabur, namun tanggung jawab PKL ini akan selesai dalam hitungan beberapa minggu lagi, sayang jika harus kutinggal. Setelah selesai kami berkumpul pada salah satu kamar dan memutuskan untuk tidur bersama. Aku tidur samping soleh dan ponselnya ia letakkan kesamping telingaku. Sambil mencoba memejamkan mata tiba-tiba ponselku sendiri berdering, ada panggilan masuk.

Baca Juga : Teror Ular Dan Pocong Yang Menyeramkan Di Mess Angker

Panggilan Dari Teror Penunggu Mess

Si penelpon itu adalah soleh, jelas-jelas ia sedang tidur sebelahku dan ponselnya persis berada dekat kepalaku. Aku langsung membangunkannya dan melihat bersama layar ponselku, jelas jelas ponsel soleh sendiri sedang dalam posisi tidak menelpon siapa-siapa. Dengan penuh pertimbangan akhirnya aku putuskan untuk mengangkat panggilan itu. Aku mendengar suara orang sedang menyapu dedaunan kering, hanya terdengar srek.. srek… srek..

Mendengar suara aneh itu, aku langsung ,menutup panggilan itu dan bergegas tidur. Kami ketakutan setengah mati malam itu dan tidak ada ynag benar-benar bisa tidur pulas. Sampai ridwan mnegaku kalau ia merasa sedang kena rep-rep oleh seseorang tak terlihat. Alhasil keesokan harinya kami ketiduran dan hanya aku yang berangkat ke pabrik. Aku menceritakan kisah kami kepada salah satu staf pabrik, mendengar alasan kenapa teman-temanku tidak berangkat.

Ia berkata kalau dulunya mess dan pemukiman sekitar sini memang sangat sepi dan jarang terhuni orang. Sampai suatu saat, tempat ini dijadikan sebagai tempat untuk menonto layar tancap untuk meramaikan suasana. Bukannya menjadi ramai orang, tapi malah ramai orang-orang yang terkena kesurupan masal. Karena hal itulah, wilayah ini menjadi senmkin sepi. Mendengar ini bulu kuduk kami sontak bergidik merinding.

Akhirnya soleh kembali menelpon ayahnya untuk menceritakan kenyataan ini. Menurutnya, kami telah melakukan kesalahn sejak awal karena kurang sopan. Kami langsung kepikiran karena saat hari pertama, kami mendobrak pintu secara paksa. Seakan bacaan surat yasin kami hanya terdengar seperti bacaan numpang lewat saja. Akhirnya ayahnya soleh memperdengarkan suatu bacaan ayat al-quran dan ia meminta soleh untuk me-loudspeaker panggilannya dan berjalan ke berbagai sudut rumah. Setelah selesai membacakan doa, kukira tak akan mempan seperti biasanya dan mereka kian terus mengganggu kami. Namun hasilnya, kami tertidur nyenyak malam itu dan tidak ada cerita mistis yang diperdengarkan untuk sarapan pagi. Sisa hari PKL kami berjalan dengan baik dan menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *